この記事でわかること
Populasi Muslim di seluruh dunia terus bertambah, dan diperkirakan akan mencapai sekitar 30% dari total populasi pada tahun 2030.
Pada saat yang sama, di Jepang, diversifikasi wisatawan asing dan perluasan ekspor makanan telah meningkatkan kesempatan kita untuk mendengar kata "halal".
Banyak restoran dan produsen makanan yang mulai dituntut untuk memiliki sertifikasi halal.
Namun, ketika ditanya, "Apa sebenarnya halal itu?" atau "Bagaimana perusahaan harus terlibat?", banyak orang mungkin masih kesulitan untuk menjawab.
Artikel ini merangkum dasar-dasar halal dari perspektif bisnis, agar dapat dipahami oleh non-Muslim sesingkat mungkin.
Apa sebenarnya Halal itu?
Halal (Halal) dalam bahasa Arab berarti "yang diizinkan". Umumnya, ini merujuk pada makanan dan produk yang dapat dikonsumsi oleh umat Muslim dengan aman.
Sebagai contoh, daging babi dan alkohol dikategorikan sebagai "haram" (yang dilarang). Yang penting, "halal atau tidak" tidak hanya dinilai dari bahan baku, tetapi juga termasuk produksi, pengolahan, manufaktur, distribusi, dan pelabelan.
Dengan kata lain, halal adalah sistem yang membuktikan keamanan dan kepercayaan bagi umat Muslim.
"Sertifikasi Halal" adalah Kunci Bisnis
Cara perusahaan membuktikan bahwa "produk ini halal" adalah melalui "Sertifikasi Halal". Dengan mendapatkan sertifikasi setelah melalui audit oleh pihak ketiga, kepercayaan dapat ditunjukkan kepada umat Muslim di dalam dan luar negeri.
- Bagi produsen makanan, ini adalah paspor untuk ekspor.
- Bagi industri pariwisata dan restoran, ini adalah bukti pelayanan kepada Muslim.
Ada dua jenis sertifikasi utama
- Untuk outbound (ekspor): Mengikuti standar negara tujuan ekspor, diperlukan saling pengakuan.
- Untuk inbound (pariwisata): Standar domestik, terutama berpusat pada "layanan tanpa babi dan tanpa alkohol" untuk restoran dan akomodasi.
Sertifikasi yang dibutuhkan akan bervariasi tergantung pada apakah target pasar adalah domestik atau internasional.
"Sertifikasi yang berlaku di mana saja" tidak ada
Sertifikasi halal yang berlaku secara global tidak ada. Namun, jika Anda menerima sertifikasi dari organisasi domestik yang memiliki saling pengakuan dengan negara tujuan ekspor, sertifikasi tersebut akan berlaku sebagai sertifikasi halal di negara tersebut.
Memverifikasi kemitraan dengan negara-negara utama (Timur Tengah, Malaysia, Indonesia, dll.) adalah kunci keberhasilan ekspor.
Jenis sertifikasi di Jepang
-
A. Sertifikasi Halal Resmi (Organisasi Saling Pengakuan Internasional)
Digunakan secara luas di berbagai bidang seperti bisnis terkait ekspor secara keseluruhan, pengolahan dan distribusi daging, kosmetik, obat-obatan, makanan, restoran, dan akomodasi. -
B. Sertifikasi Lokal
Ditujukan untuk produsen makanan, kosmetik, dan kebutuhan sehari-hari, serta restoran dan akomodasi yang bertujuan untuk distribusi domestik. -
C. Sertifikasi Masjid / Sertifikasi Pribadi
Digunakan untuk semua jenis bisnis Muslim di Jepang. Namun, bisnis yang membutuhkan sertifikasi resmi tidak termasuk. -
D. Muslim-Friendly / Muslim-Welcome (tanpa sertifikasi)
Gaya penanganan tanpa babi dan tanpa alkohol dengan pengungkapan informasi, berdasarkan standar Badan Pariwisata.
Halal juga terkait dengan keamanan pangan
Sertifikasi halal tidak cukup hanya dengan memenuhi aturan agama. Sebenarnya, juga dituntut untuk memenuhi standar manajemen kebersihan makanan seperti HACCP.
Dengan kata lain, sertifikasi halal adalah tanda kepercayaan ganda "agama + keamanan pangan". Ini tidak hanya memberikan rasa aman kepada konsumen, tetapi juga bisa menjadi syarat transaksi dengan mitra bisnis.
Pasar Internasional Makanan Jepang Semakin Berkembang
- Jumlah pengeluaran wisatawan asing di Jepang pada tahun 2024 melebihi 8 triliun yen (laporan awal Badan Pariwisata).
- Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengumumkan target untuk melipatgandakan konsumsi terkait "makanan" menjadi 3 kali lipat (4,5 triliun yen) pada tahun 2030.
- Produk halal dari Jepang seperti wagyu dan bumbu masakan semakin populer di Asia Tenggara dan Timur Tengah.
Di tengah menyusutnya permintaan domestik, sertifikasi halal menarik perhatian sebagai "senjata untuk ekspansi ke luar negeri".
Tiga Pengalaman Seputar Halal
Contoh ①: Kasus restoran inbound
Baru-baru ini, saya mendengar cerita dari teman yang bekerja paruh waktu di sebuah izakaya di Tokyo, "Ketika pelanggan Muslim datang dan memesan karaage, saya kesulitan karena tidak tahu apakah ayamnya sudah bersertifikasi halal." Ini menunjukkan kesulitan yang dihadapi di lapangan tanpa pengetahuan khusus.
Contoh ②: Kasus di lokasi ekspor
"Meskipun rasa dan kualitasnya dihargai, negosiasi tidak berjalan karena tidak ada sertifikasi"—ada kasus di mana produsen makanan tidak memiliki sertifikasi saat mengekspor bumbu ke Asia Tenggara, sehingga kontrak tidak jadi. Sejak saat itu, perusahaan tersebut mulai mempertimbangkan halal sejak tahap pengembangan.
Contoh ③: Sudut pandang wisatawan
Dulu, di Bandara Kuala Lumpur, ketika saya mencoba memberikan kue yang saya bawa dari Jepang kepada teman Muslim, ia menolaknya dengan mengatakan, "Saya tidak bisa memakannya karena saya tidak tahu apakah itu halal." Saya menyadari bahwa bahkan kue yang biasa saja di Jepang, secara internasional membutuhkan "bukti keamanan".
Ringkasan
Halal telah melampaui batasan aturan bagi umat Muslim dan menjadi topik yang berkaitan langsung dengan bisnis Jepang.
- "Halal = yang diizinkan" adalah "bukti keamanan" yang mencakup pengolahan, distribusi, dan pelabelan.
- Sertifikasi adalah paspor ekspor bagi produsen makanan, dan bukti kepercayaan bagi industri restoran dan pariwisata.
- Di Jepang, jenis sertifikasi A hingga D digunakan secara berbeda.
- Sertifikasi halal adalah tanda kepercayaan ganda "agama + keamanan pangan" yang terintegrasi dengan HACCP dan keamanan pangan lainnya.
- Pasar terus berkembang. Pengeluaran wisatawan asing pada tahun 2024 melebihi 8 triliun yen, dan Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menargetkan 4,5 triliun yen terkait makanan pada tahun 2030.
Dalam contoh konkret di lapangan, seperti penanganan karaage di izakaya, kegagalan kontrak ekspor, dan wisatawan yang tidak bisa makan kue Jepang, ada atau tidaknya sertifikasi halal sangat mempengaruhi peluang dan kepercayaan.
Oleh karena itu, "mempertimbangkan jenis sertifikasi halal apa yang dibutuhkan perusahaan Anda" adalah langkah pertama untuk memasuki pasar di masa depan.